Minggu, 30 Januari 2011

Refleksi

Kayaknya saya masih inget atau lebih tepatnya gak biss melupakan setiap kejadian secara mendetail pada saat saya dikdas (pendidikan dasar) Impeesa 29 Januari - 3 Februari 2008 di Gunung Salak I, Jawa Barat. Inget banget dengan jelas gimana hari pertama dikdas pas baru turun dari tronton, pertama kalinya kaki saya nginjek gunung salak udah disambut sama hujan, gerimis lebih tepatnya lagi. Dan kejadian di hari pertama dikdas, saat pertama kali menginjakkan kaki di gunung salak itu merupakan suatu pertanda atau firasat lebih tepatnya yang akan kami semua  9 orang para caim (calon Impeesa) alami di hari-hari selanjutnya selama masa kami menjalani pendidikan dasar sebagai calon Impeesa.

Bagaimana tidak, hujan yang menyambut kami di hari pertama dikdas itu selanjutnya akan setia menemani perjalanan kami selama dikdas tersebut. Kejadian yang berikutnya terjadi adalah kami yang di dikdas oleh alam dengan sangat kejam dan ganas melebihi di dikdas oleh senior-senior kami. Tampar-tamparan?push-up?makan daun?makan cacing?tidur ditanah? Sama sekali gak ada apa-apanya..

Yang lebih tidak terlupakan adalah kami terkena badai gunung yang amat sangat menyiksa kami yang juga hampir merengut nyawa kami semua. Kedinginan?Kehujanan?Melawan kabut dan Badai? Itulah yang terjadi, tapi yang sebenarnya adalah bagaimana kami di uji tidak hanya secara fisik melainkan juga mental untuk melawan ketakutan dan rasa lemah pada diri kami sendiri. Tak akan pernah bisa kau bayangkan kawan

Aku ingat bagaimana kami berjibaku melawan badai gunung tersebut dan kabut tebal yang menghadang dengan sisa-sisa kekuatan dan semangat yang kami miliki. Aku juga ingat sekali bagaimana kami merosot/meluncur bebas setiap kali melewati medan yang curam dan menurun, karena bila kami berdiri kami tidak mapu menyeimbangkan badan kami karena carrier yag begitu besar dan berat. Ingat juga pada saat mental kami, para caim mulai nge-down karena terus-menerus di dikdas oleh alam. Dan tambah nge-down lagi saat melihat salah satu teman kami terkena hipotermia karena tidak kuat menahan dingin. 
Push-up lebih dari 500 kali, gampar-gamparan, dibentak oleh senior habis-habisan, makan tanah, makan daun, diganggu oleh setan sekalipun masih lebih baik daripada cobaan yang diberikan oleh alam.

Pada akhirnya semua tantangan itu dapat kami lalui bersama-sama. Ikatan yang terjalin diantara kami bersembilan benar-benar mengikat kami sebagai saudara. Kami bersembilan dilantik sebagai AMI (Anggota Muda Impeesa) Angkatan ke-20 "Badai Giri" di  kaki gunung salak Sukamantri, tempat yang akan selalu menjadi kenangan seumur hidup. Dan perasaan pada hari itu, pada hari kami dilantik sungguh suatu perasaan yang mengharu biru, tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. 


Sungguh, itulah yang akan menjadi titik balik dalam perjalanan hidup saya dalam menemukan jati diri. Ahh... amat sangat berharga..
Sungguh, betapa dahsyatnya kekuatan alam. Alam memang tidak dapat ditaklukan. Pelajaran yang amat berharga bagi kami semua untuk lebih mengenal alam ini. Dan aku sunggug bangga pernah menjadi bagian dari sekian banyak pecinta alam di dunia ini.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar